Unit Konsultasi Psikologi (UKP) menghadirkan kembali kegiatan tahunan, UKP Talks, pada awal bulan Juli 2026. Rangkaian acara bertajuk “Behavioral Activation for Depression and Anxiety” dan “Building Core Dialectical Behavior Therapy (DBT) Competencies for Mental Health Practitioners” diadakan sebagai ruang untuk pengembangan evidence-based practice di lingkungan psikologi. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis untuk membantu praktisi dan calon praktisi merespons dinamika dalam pelayanan kesehatan mental, terutama dalam kondisi peningkatan kasus gangguan kecemasan dan depresi yang tengah berlangsung saat ini.
Setelah seharian penuh beraktivitas, bukannya beristirahat, tetapi malah scroll Tiktok, menonton serial drama, atau bermain HP sampai larut malam. Dari “lima menit lagi”, berubah menjadi satu jam, lalu dua jam, hingga tidak terasa sudah pukul dua pagi. Padahal, kita tahu bahwa kurang tidur akan membuat hari esok terasa lebih berat. Pernahkah Teman UKP mengalami hal demikian?
Fenomena ini dikenal dengan Revenge Bedtime Procrastination (RBP). RBP merupakan situasi ketika seseorang menunda waktu tidur demi mendapatkan waktu pribadi, tanpa adanya faktor penyebab eksternal (Kroese et al., 2014). Individu yang melakukan RBP seringkali telah menyadari bahwa menunda waktu tidur akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri.
Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh UKP memiliki garis tujuan yang sama, yakni menghadirkan layanan psikologi secara optimal dan profesional. Selama bulan Mei, UKP tidak hanya menghadirkan layanan konsultasi, tetapi juga menyelenggarakan dua kegiatan asesmen serta UKP Meet #7. Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan wujud komitmen UKP dalam mewujudkan layanan profesional yang sejalan dengan SDGs 3, yaitu Good Health and Well Being, dan SDGs 4, yaitu Quality Education.
Pelaksanaan Asesmen Seleksi Calon Residen Bedah Saraf FKKMK UGM
Pada tanggal 8 hingga 11 Mei 2026, UKP kembali bekerja sama dengan FKKMK UGM untuk melaksanakan asesmen seleksi untuk calon residen bedah saraf. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian proses seleksi yang bertujuan untuk menggali gambaran psikologis, khususnya pada aspek klinis dan gambaran potensi yang dimiliki para calon residen bedah saraf. Hasil asesmen klinis tersebut nantinya akan digunakan sebagai dasar rekomendasi untuk seleksi penerimaan mahasiswa baru residen bedah saraf FKKMK UGM.
Pernahkah Teman UKP merasa bahwa masa kini tidak berjalan sesuai harapan atau merasa terjebak dalam ketidakpastian masa depan? Rasanya seperti hidup yang kita impikan tidak dapat terwujud karena tanggung jawab sebagai ‘orang dewasa’ menuntut untuk segera diselesaikan. Jika pernah, mungkin Teman UKP sedang mengalami quarter-life crisis.
Apa itu quarter-life crisis?
Quarter-life crisis merupakan istilah populer yang menggambarkan kondisi ketika individu usia 20-an mengalami krisis akibat berbagai tekanan serta ekspektasi budaya terhadap peran orang dewasa (Hassler, 2011). Krisis ini dapat muncul dalam bentuk emosional seperti perasaan sedih, cemas, dan putus asa (Valentino & Hendrawan, 2025). Perasaan tersebut seringkali dipicu oleh kebingungan dalam menghadapi masa depan dan penyesuaian terhadap peran baru, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial.
Apakah TemanUKP pernah dibilang “kuat” oleh banyak orang, tetapi diam-diam merasa lelah? Semakin berusaha menjadi kuat seperti yang orang katakan, justru terasa semakin melelahkan. Bahkan di hari yang buruk, di tengah ramainya isi kepala yang berkecamuk, dan berbagai perasaan yang tidak menentu, rasanya seperti ada tuntutan bahwa kita harus tetap terlihat baik-baik saja.
Kenapa ya, kita seolah-olah “harus kuat” terus?
Berbagai fase kehidupan seringkali diwarnai oleh berbagai tuntutan, misalnya dari pekerjaan dan karier, perjalanan akademik, relasi sosial, hingga perencanaan masa depan. Dalam proses tersebut, tidak sedikit individu yang secara perlahan terbiasa untuk “tetap kuat” dan menyembunyikan perasaan yang dianggap dapat mengganggu produktivitas. Dalam perspektif psikologi humanistik, kondisi ini dapat dikaitkan dengan incongruence, yaitu ketidaksesuaian antara pengalaman internal dengan ekspresi diri yang ditampilkan kepada orang lain (Rogers dalam Santrock, 2018).
Memasuki bulan April 2026, UKP terus menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pelaksanaan konseling hasil tes bakat siswa, benchmarking bersama institusi pendidikan lain, hingga pelaksanaan UKP Meet yang keenam. Tidak hanya melalui layanan psikologis, UKP juga melakukan kolaborasi serta diskusi dengan berbagai institusi pendidikan.
Konseling Hasil Tes Minat Bakat Siswa
Pada 7 April 2026 lalu, UKP melaksanakan kegiatan konseling terkait hasil tes minat bakat siswa kelas 11 SMA Taruna Nusantara. Kegiatan ini dilaksanakan di SMA Taruna Nusantara Magelang dan melibatkan sejumlah 22 orang psikolog. Melalui sesi konseling, siswa dan orang tua dapat mengeksplorasi potensi bakat dan pertimbangan tahap pendidikan selanjutnya sesuai dengan minat yang dimiliki siswa. Rangkaian kegiatan ini merupakan kolaborasi antara UKP, Unit Pengembangan Kualitas Manusia (UPKM), dan Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika (UPAP) UGM.
Apakah teman UKP pernah mendapat komentar seperti, “Nggak papa, itu biasa terjadi. Coba kamu lebih bersyukur dan cari hikmah dari kejadian ini”. Atau kamu mencoba berpikir positif terhadap suatu masalah, tetapi justru berujung cemas dan semakin terpuruk? Jika iya, mungkin yang terjadi adalah salah satu bentuk toxic positivity.
Apa itu Toxic Positivity?
Toxic positivity adalah kecenderungan memaksakan diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif hingga menekan pengakuan terhadap stres dan emosi negatif. Individu yang terjebak dalam toxic positivity meyakini bahwa seberat apapun kesulitan yang dialami, mereka harus tetap berpikir positif, alih-alih mengakui, memproses, dan menghadapinya secara sehat. Dengan kata lain, ciri utama toxic positivity adalah adanya penolakan atau ketidakmauan untuk mengakui dan menerima emosi negatif.
Teman UKP pernah kepikiran tidak, kapan terakhir kali benar-benar mengobrol dengan kakek atau nenek? Bukan sekadar datang, salaman, lalu sibuk dengan ponsel masing-masing, tetapi duduk dan berbincang dengan perhatian penuh.
Sebagai mahasiswa, fase hidup sering kali dipenuhi tuntutan akademik, aktivitas organisasi, serta perencanaan masa depan. Di tengah kesibukan tersebut, peran sebagai cucu kerap berjalan otomatis. Hadir saat momen tertentu, menyapa seperlunya, lalu kembali tenggelam dalam rutinitas. Relasi dengan lansia pun sering dianggap cukup diwakili oleh kehadiran fisik sesekali.
Menutup tahun 2025 kemarin, UKP berkesempatan untuk menjadi bagian dalam memperkenalkan kesehatan mental melalui Pameran Nitilaku 2025 dan webinar bersama dengan MyRobin.id. Dalam Pameran Nitilaku kali ini, UKP berkolaborasi dengan Center for Public Mental Health (CPMH) dan Laboratorium Proses Mental dan Perilaku untuk menghadirkan kilasan tentang Fakultas Psikologi. Pameran yang diadakan pada tanggal 10-15 Desember 2025 ini ramai didatangi pengunjung, dengan antusiasme yang memuncak pada akhir pekan. Pengunjung yang datang ke booth Fakultas Psikologi dapat mengikuti berbagai media interaktif, termasuk Virtual Reality Games dan pohon harapan. UKP secara khusus juga menyediakan sesi mini counseling gratis yang terbuka untuk khalayak umum.
Pernahkah Teman UKP menggunakan artificial intelligence (AI) untuk curhat? Pada era digitalisasi saat ini, banyak individu yang cenderung lebih memilih AI sebagai tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah dibandingkan curhat kepada teman, keluarga, maupun profesional kesehatan mental. Kira-kira bagaimana fenomena ini dapat terjadi dalam sudut pandang psikologi? Apakah curhat ke AI lebih baik dibandingkan ke profesional? Yuk, simak penjelasan lengkapnya!
Mengapa individu dapat merasa nyaman curhat bersama AI?
Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan fundamental untuk mengekspresikan emosi dan pikirannya dengan aman dan nyaman. Dalam perspektif hierarchy of needs dari Abraham Maslow, hal ini merupakan upaya memenuhi kebutuhan akan love and belongingness. AI mengambil peran dengan menawarkan bentuk chatbot yang responsif dan mampu memandu individu untuk melewati ketidaknyamanan psikis yang sedang dirasakan (Kretzschmar et al., 2019). Hal ini dapat menimbulkan perasaan nyaman dan aman bagi individu karena interaksi yang terjalin bersama AI terasa seperti memberikan perhatian yang lebih personal dan tidak menghakimi.