• Tentang Psikologi UGM
  • CICP
  • CPMH
  • UPAP
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Unit Konsultasi Psikologi
    • Profil Pengelola
    • Lokasi
    • Karir
  • Paket Layanan
    • Individu Dewasa
    • Individu Anak
    • Pendidikan dan Sekolah
    • Tes Kognitif AJT
    • Pasangan, Rumah Tangga, dan Keluarga
    • Korporasi
  • Alur Layanan
  • Galeri
  • Beranda
  • Artikel
  • Interaksi Antargenerasi di Tengah Kesibukan Mahasiswa: Relasi Cucu dan Lansia

Interaksi Antargenerasi di Tengah Kesibukan Mahasiswa: Relasi Cucu dan Lansia

  • Artikel
  • 10 April 2026, 15.30
  • Oleh: ukp.psikologi
  • 0

Teman UKP pernah kepikiran tidak, kapan terakhir kali benar-benar mengobrol dengan kakek atau nenek? Bukan sekadar datang, salaman, lalu sibuk dengan ponsel masing-masing, tetapi duduk dan berbincang dengan perhatian penuh.

Sebagai mahasiswa, fase hidup sering kali dipenuhi tuntutan akademik, aktivitas organisasi, serta perencanaan masa depan. Di tengah kesibukan tersebut, peran sebagai cucu kerap berjalan otomatis. Hadir saat momen tertentu, menyapa seperlunya, lalu kembali tenggelam dalam rutinitas. Relasi dengan lansia pun sering dianggap cukup diwakili oleh kehadiran fisik sesekali.

Padahal, dalam psikologi perkembangan, interaksi dengan kakek dan nenek bukan sekadar formalitas keluarga. Percakapan ringan, mendengarkan cerita lama, atau sekadar menanyakan kabar merupakan bagian dari interaksi antargenerasi yang memiliki makna psikologis bagi lansia.

Lalu, sebenarnya mengapa interaksi antargenerasi tetap penting, khususnya ketika mahasiswa juga menjalani peran sebagai cucu?

 

Perubahan Relasi Sosial pada Lansia

Proses menua tidak hanya ditandai oleh perubahan fisik, tetapi juga perubahan dalam relasi sosial. Santrock (2018) menjelaskan bahwa pada masa lanjut usia terjadi penyempitan peran sosial dan jaringan pertemanan. Akibatnya, kualitas hubungan menjadi lebih penting dibandingkan kuantitasnya.

Dalam konteks ini, hubungan dengan anggota keluarga terdekat memiliki peran yang semakin signifikan. Interaksi yang hangat dan bermakna membantu lansia merasa tetap terhubung dan dihargai, meskipun peran sosial mereka di luar keluarga semakin terbatas.

Secara perkembangan, lansia berada pada tahap ego integrity versus despair, yaitu fase refleksi terhadap kehidupan yang telah dijalani menurut kerangka psikososial Erikson. Relasi yang suportif dapat menjadi konteks yang mendukung proses refleksi tersebut, meskipun tidak secara langsung menentukan pencapaiannya (Santrock, 2018).

 

Mengapa Interaksi antargenerasi Tetap Dibutuhkan?

Teori Selektivitas Sosioemosional menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, individu semakin memprioritaskan hubungan yang memberikan kedekatan emosional dan rasa bermakna dibandingkan memperluas jaringan sosial baru (Carstensen, 1992). Lansia cenderung memilih relasi yang aman secara emosional, familiar, dan penuh afeksi.

Dalam keluarga, cucu sering kali menjadi figur yang menghadirkan kehangatan tanpa relasi hierarkis yang kaku. Interaksi antara cucu dan kakek nenek dapat berlangsung lebih santai dan emosional, sehingga sesuai dengan kebutuhan relasional lansia pada tahap ini.

 

Posisi Cucu dalam Lingkaran Sosial Lansia

Relasi lansia dengan orang-orang terdekatnya dapat dipahami melalui Social Convoy Model. Model ini menggambarkan bahwa setiap individu dikelilingi oleh jaringan sosial yang menopang kesejahteraan sepanjang hidupnya, meskipun ukuran dan komposisinya dapat berubah seiring waktu (Antonucci dalam Bjorklund, 2015).

Pada masa lanjut usia, jaringan sosial cenderung menyempit. Namun, hubungan yang bertahan justru memiliki signifikansi emosional yang lebih besar. Dalam lingkaran sosial tersebut, cucu kerap menempati posisi penting sebagai sumber kehangatan emosional sekaligus penghubung antargenerasi.

 

Hadir, Mendengar, dan Terhubung

Interaksi antargenerasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bantuan besar atau keterlibatan intens. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap dukungan sosial dan keterhubungan emosional berperan penting dalam kesejahteraan psikologis lansia (Xu et al., 2021).

Bagi cucu, kehadiran tersebut dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana. Mendengarkan cerita yang mungkin terdengar berulang, mengajak berbincang tentang keseharian, atau melibatkan lansia dalam percakapan ringan dapat membantu mereka merasa tetap memiliki peran dan makna. Santrock (2018) mencatat bahwa perubahan peran sosial pada lansia dapat memengaruhi rasa berharga diri, sehingga interaksi yang menghargai pengalaman hidup mereka menjadi semakin bermakna.

 

Menjadi Mahasiswa, Tetap Menjadi Cucu

Menjadi mahasiswa merupakan fase eksplorasi diri, tujuan hidup, dan peran sosial. Namun, fase ini tidak menghapus peran sebagai cucu. Justru, posisi sebagai cucu dewasa membuka peluang interaksi antargenerasi yang lebih reflektif dan setara.

Di tengah kesibukan kuliah dan tuntutan perkembangan diri, menjaga relasi dengan kakek dan nenek dapat menjadi ruang belajar tentang empati, keterhubungan, dan makna relasi lintas generasi. Sekadar menanyakan kabar atau meluangkan waktu untuk mendengar dapat menjadi bentuk interaksi antargenerasi yang sederhana, namun bermakna bagi lansia.

Interaksi antar generasi antara siswa dan lansia dapat dipahami sebagai bentuk hubungan sosial yang berpotensi memberikan manfaat psikososial bagi kedua belah pihak. Bagi lansia, terlibat dalam interaksi yang bermakna dengan generasi muda dapat membantu mempertahankan rasa keterhubungan sosial, mengurangi perasaan kesepian, dan mendukung kesejahteraan psikologis di usia lanjut. Sementara itu, bagi siswa, pengalaman berinteraksi dengan lansia tidak hanya memperluas pemahaman mereka tentang dinamika perkembangan manusia lintas usia, tetapi juga menumbuhkan empati, kepekaan sosial, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, praktik interaksi antar generasi ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya untuk meningkatkan kesehatan mental, dan SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan mendorong inklusi sosial lansia dalam kehidupan masyarakat.

 

Referensi

Bjorklund, B. R. (2015). The journey of adulthood (7th ed.). Pearson Education.

Carstensen, L. L. (1992). Social and emotional patterns in adulthood: Support for socioemotional selectivity theory. Psychology and Aging, 7(3), 331–338. https://doi.org/10.1037/0882-7974.7.3.331

Santrock, J. W. (2018). A topical approach to life-span development (9th ed.). McGraw-Hill Education.

Xu, R., Lin, Y., & Zhang, B. (2021). Relationship among sleep quality, depressed mood, and perceived social support in older adults: A longitudinal study. Journal of Pacific Rim Psychology, 15. https://doi.org/10.1177/18344909211052658

 

Penulis: Diva Nadiartalika

Penyunting: Adzkia Ra’ida Salma, M.Psi., Psikolog

Tags: antargenerasi cucu emosional generation gap good health and well-being interaksi kesehatan mental lansia mahasiswa perkembangan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Berita Terakhir

  • UKP Gandeng Pakar Dialectical Behavior Therapy untuk Mendukung Pengembangan Kompetensi Praktisi dan Calon Praktisi Psikologi
  • Revenge Bedtime Procrastination: “5 Menit Lagi” Berujung Jam 2 Pagi
  • Kolaborasi UKP dalam Ruang Asesmen dan Penguatan Tim
  • Quarter-Life Crisis: Pencarian Makna di Tengah Ketidakpastian Dua Puluhan
  • Di Balik Kebiasaan Mengatakan “Aku Baik-Baik Saja”
Universitas Gadjah Mada

Unit Konsultasi Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Gedung D lantai 2
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
 +62(274)550435 ext 131 | +62 857 5916 1581
 +62(274)550435 ext 158
ukp.psikologi[at]ugm.ac.id | ukpugm[at]gmail.com
 instagram.com/ukpugm

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY