Apakah teman UKP pernah mendapat komentar seperti, “Nggak papa, itu biasa terjadi. Coba kamu lebih bersyukur dan cari hikmah dari kejadian ini”. Atau kamu mencoba berpikir positif terhadap suatu masalah, tetapi justru berujung cemas dan semakin terpuruk? Jika iya, mungkin yang terjadi adalah salah satu bentuk toxic positivity.
Apa itu Toxic Positivity?
Toxic positivity adalah kecenderungan memaksakan diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif hingga menekan pengakuan terhadap stres dan emosi negatif. Individu yang terjebak dalam toxic positivity meyakini bahwa seberat apapun kesulitan yang dialami, mereka harus tetap berpikir positif, alih-alih mengakui, memproses, dan menghadapinya secara sehat. Dengan kata lain, ciri utama toxic positivity adalah adanya penolakan atau ketidakmauan untuk mengakui dan menerima emosi negatif.
Kenali tanda-tandanya!
-
Menuntut untuk selalu bahagia
Emosi negatif seperti sedih, kecewa, dan marah merupakan perasaan yang wajar dialami manusia. Keinginan untuk selalu merasa senang bisa menjadi salah satu ciri toxic positivity. Misalnya, mengatakan bahwa berpikir positif akan menyelesaikan semua masalah, seperti, “Pikirin yang bahagia saja biar nggak sedih.”
-
Menyangkal perasaan
Saat merasakan emosi negatif, kamu justru berkata, “Aku nggak apa-apa, mungkin cuma capek atau lagi sensitif saja,” sambil mengabaikan sinyal dari tubuh. Hal ini mengarah pada pengabaian dan invalidasi emosi diri sendiri.
-
Membandingkan penderitaan
Tidak jarang seseorang berkata, “Bersyukur ya, ada yang bebannya lebih berat dari kamu,” ketika merespons kesulitan orang lain. Ungkapan ini dapat menekan emosi negatif yang sedang dirasakan dan membuat individu merasa ada yang ‘salah’ dengan perasaannya.
-
Ingin selalu terlihat ‘positif’ di publik
Di era digital, konten positif lebih sering dibagikan sehingga menciptakan standar kehidupan yang kurang realistis. Akibatnya, banyak orang merasa tertekan untuk selalu tampak baik-baik saja. Tidak salah menunjukkan kebahagiaan, tetapi penting diingat bahwa setiap orang pasti menghadapi kesulitan dalam hidup.
Apa dampak dari Toxic Positivity?
Penolakan terhadap emosi negatif dapat menimbulkan dampak negatif. Menurut studi kualitatif oleh Sumakul dkk. (2025), mahasiswa yang kerap melakukan toxic positivity mengalami stres, kecemasan, psikosomatik, overthinking, serta menurunnya kepercayaan diri, napsu makan, dan kelelahan.
Lalu bagaimana solusinya?
Melihat sisi positif sebagai rasa syukur bukanlah hal yang salah. Namun, seseorang perlu memahami pandangan emosional yang seimbang. Alih-alih berusaha untuk selalu bersikap positif, individu sebaiknya mengarah pada realisme emosional, yaitu menerima bahwa emosi negatif merupakan hal yang wajar untuk dirasakan dan dibutuhkan dalam kehidupan.
Teman UKP dapat mengidentifikasikan emosi yang dirasakan dengan The Feelings Wheel. The Feelings Wheel mengklasifikasikan emosi inti ke dalam 7 emosi, yaitu bahagia, sedih, marah, takut, terkejut, dan jijik. Selanjutnya emosi tersebut dapat dibagi kembali menjadi lebih spesifik. Sebagai contoh, seseorang yang merasa “sedih” dapat menggunakan The Feelings Wheel untuk mengidentifikasi bahwa mereka secara spesifik merasa “kecewa” atau “kesepian.” Tingkat spesifisitas ini memungkinkan individu memahami emosi mereka lebih mendalam, yang merupakan aspek kunci dari realisme emosional. Teman UKP dapat melihat pada gambar 1.

Gambar 1. The Feelings Wheel (Feelings Wheel, 2026)
Setelah mengenali emosi, Teman UKP dapat belajar menerima perasaan tersebut tanpa menghakimi atau menyangkalnya. Aktivitas seperti journaling juga dapat membantu mengeksplorasi penyebab emosi sekaligus menjadi strategi pengelolaan stres yang sehat.
Upaya memahami dan mengelola emosi secara sehat sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ketiga, yaitu Good Health and Well-Being. Poin tersebut menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan setiap individu. Meningkatkan literasi emosi dan mengurangi praktik toxic positivity dapat membantu membangun masyarakat yang lebih suportif, empatik, dan inklusif. Dengan kesadaran bahwa seluruh emosi, baik positif maupun negatif, memiliki fungsi yang penting, individu diharapkan mampu mengembangkan kesehatan mental yang lebih berkelanjutan serta kualitas relasi sosial yang lebih sehat.
Daftar Pustaka:
Feelings wheel. Feelings Wheel. (n.d.). https://feelingswheel.com/
Kojongian, M. G. R., & Wibowo, D. H. (2022). Toxic positivity: Sisi lain dari konsep untuk selalu positif dalam segala kondisi. Psychopreneur Journal, 6(1), 10-25.
Mui, L. U., & bt Saili, J. (2024). Toxic Positivity and Its Role among Young Adult Workers. Journal of Cognitive Sciences and Human Development. Vol, 10, 1.
Sumakul, Y., Langi, F. M., Waturandang, M. M., & Wayong, I. C. (2025). Dampak Toxic Positivity Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa. Journal of Psychology Humanlight, 6(1), 67-74.
Wyatt, Z. (2024). The dark side of# PositiveVibes: Understanding toxic positivity in modern culture. Psychiatry, 3(1), 1-6.
Penulis: Yunintria Imtihanah Sulistyaningrum
Penyunting: Adzkia Ra’ida Salma, M.Psi., Psikolog