• Tentang Psikologi UGM
  • CICP
  • CPMH
  • UPAP
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Unit Konsultasi Psikologi
    • Profil Pengelola
    • Lokasi
    • Karir
  • Paket Layanan
    • Individu Dewasa
    • Individu Anak
    • Pendidikan dan Sekolah
    • Tes Kognitif AJT
    • Pasangan, Rumah Tangga, dan Keluarga
    • Korporasi
  • Alur Layanan
  • Galeri
  • Beranda
  • Artikel
  • Quarter-Life Crisis: Pencarian Makna di Tengah Ketidakpastian Dua Puluhan

Quarter-Life Crisis: Pencarian Makna di Tengah Ketidakpastian Dua Puluhan

  • Artikel
  • 12 June 2026, 11.38
  • Oleh: ukp.psikologi
  • 0

Pernahkah Teman UKP merasa bahwa masa kini tidak berjalan sesuai harapan atau merasa terjebak dalam ketidakpastian masa depan? Rasanya seperti hidup yang kita impikan tidak dapat terwujud karena tanggung jawab sebagai ‘orang dewasa’ menuntut untuk segera diselesaikan. Jika pernah, mungkin Teman UKP sedang mengalami quarter-life crisis.

 

Apa itu quarter-life crisis?

Quarter-life crisis merupakan istilah populer yang menggambarkan kondisi ketika individu usia 20-an mengalami krisis akibat berbagai tekanan serta ekspektasi budaya terhadap peran orang dewasa (Hassler, 2011). Krisis ini dapat muncul dalam bentuk emosional seperti perasaan sedih, cemas, dan putus asa  (Valentino & Hendrawan, 2025). Perasaan tersebut seringkali dipicu oleh kebingungan dalam menghadapi masa depan dan penyesuaian terhadap peran baru, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial. 

 

Bagaimana tahapan terjadinya quarter-life crisis?

Robinson (2019) menjelaskan bahwa quarter-life crisis terdiri atas beberapa fase. Pertama, fase locked-in, yaitu ketika individu merasa terjebak dalam peran yang tidak lagi diinginkan, tetapi merasa sulit keluar karena dianggap tidak realistis. Setelah itu, individu memasuki fase time-out, yaitu periode jeda sementara yang ditandai dengan refleksi diri dan penangguhan komitmen untuk mengevaluasi arah kehidupan yang diinginkan. Ketiga, fase separation, yaitu ketika individu mulai melepaskan diri dari peran atau identitas lama yang sebelumnya membuat dirinya merasa terikat. Keempat, fase exploration, yaitu ketika individu mulai mengeksplorasi berbagai peran dan identitas baru. Terakhir, fase rebuilding, yaitu ketika individu mulai membangun komitmen terhadap peran dan identitas yang dipilih, disertai munculnya motivasi intrinsik. Robinson et al. (2013) menyatakan bahwa fase-fase tersebut tidak bersifat linier sehingga urutan kemunculannya dapat berbeda pada setiap individu maupun kelompok.

 

Bagaimana cara berdamai dengan fase quarter-life crisis?

Apabila Teman UKP sedang berada dalam fase ini, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, penting untuk memahami bahwa krisis ini merupakan hal yang wajar dirasakan, terutama karena transisi dan perubahan merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan. Dengan menerima adanya ketidakpastian, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang. Kedua, meskipun tidak dialami oleh semua orang, quarter-life crisis cukup sering muncul pada masa dewasa awal (Robinson, 2015). Oleh karena itu, jangan ragu untuk berbagi cerita dan pengalaman dengan keluarga maupun teman terdekat. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya dapat membantu kita memahami perasaan dan merasa tidak sendirian.

Ketiga, kita dapat memulai proses refleksi diri untuk mencari potensi diri dan hal-hal yang bermakna dalam hidup. Hal tersebut dapat membantu individu menemukan tujuan hidup yang sesuai dengan nilai dan prinsip yang diyakini (Valentino & Hendrawan, 2025). Teman UKP dapat menggunakan framework seperti Johari Window atau analisis SWOT untuk membantu mengenali potensi diri dengan lebih baik. Namun demikian, proses ini tentu tidak dapat selesai dalam waktu singkat dan setiap individu memiliki waktunya masing-masing. Oleh karena itu, kita juga perlu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dan lebih berfokus pada proses serta perkembangan diri sendiri (Gerber et al., 2018). Apabila perasaan cemas masih terus berlanjut dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, Teman UKP dapat mempertimbangkan untuk mengakses layanan profesional. Psikolog atau konselor dapat membantu memberikan sudut pandang baru, memahami emosi yang dirasakan, serta membantu mengatasi pola pikir negatif dengan lebih baik.

 

Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), pembahasan mengenai quarter-life crisis mendukung SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Serta, SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kemampuan refleksi diri, adaptasi, dan pengembangan potensi individu.

Meskipun berat, quarter-life crisis bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses bertumbuh dan mengenal diri. Jadi, apabila Teman UKP merasa lelah dan semuanya sudah terlambat, ingatlah bahwa you are the youngest version that you’ve ever been. Take your time, trust your process, and enjoy your youth while it lasts.

 

Referensi

Hassler, C. (2011, November). Are you having A quarterlife crisis? https://www.huffpost.com/entry/are-you-having-a-quarterl_b_326612

Gerber, J. P., Wheeler, L., & Suls, J. (2018). A social comparison theory meta-analysis 60+ years on. Psychological Bulletin, 144, 177–197. https://doi.org/10.1037/bul0000127 

Valentino, K., & Hendrawan, D. (2025). Tinjauan Sistematis: Gambaran Quarter-life Crisis, Dampak, serta Faktor-faktor yang Memengaruhinya. Buletin Psikologi, 33(1), 26-47.

Robinson, O. C. (2015). Emerging adulthood, early adulthood and quarter-life crisis: Updating Erikson for the 21st century. In R. Žukauskiene (Ed.), Emerging adulthood in a european context (pp. 17–30). Routledge

Robinson, O. C. (2019). A longitudinal mixed-methods case study of quarter-life crisis during the post-university transition: Locked-out and locked-in forms in combination. Emerging Adulthood, 7, 167–179. https://doi.org/10.1177/2167696818764144

Robinson, O. C., Wright, G. R. T., & Smith, J. A. (2013). The holistic phase model of early adult crisis. Journal of Adult Development, 20(1), 27–37. https://doi.org/10.1007/s10804-013-9153-y

 

Penulis: Carissa Andis Wiyatno Putri

Penyunting: Adzkia Ra’ida Salma, M.Psi., Psikolog

Tags: Mental Health Quarter Life Crisis SDG 3: Good Health and Well-Being SDG 4: Quality Education

Berita Terakhir

  • UKP Gandeng Pakar Dialectical Behavior Therapy untuk Mendukung Pengembangan Kompetensi Praktisi dan Calon Praktisi Psikologi
  • Revenge Bedtime Procrastination: “5 Menit Lagi” Berujung Jam 2 Pagi
  • Kolaborasi UKP dalam Ruang Asesmen dan Penguatan Tim
  • Quarter-Life Crisis: Pencarian Makna di Tengah Ketidakpastian Dua Puluhan
  • Di Balik Kebiasaan Mengatakan “Aku Baik-Baik Saja”
Universitas Gadjah Mada

Unit Konsultasi Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Gedung D lantai 2
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
 +62(274)550435 ext 131 | +62 857 5916 1581
 +62(274)550435 ext 158
ukp.psikologi[at]ugm.ac.id | ukpugm[at]gmail.com
 instagram.com/ukpugm

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY