• Tentang Psikologi UGM
  • CICP
  • CPMH
  • UPAP
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Unit Konsultasi Psikologi
    • Profil Pengelola
    • Lokasi
    • Karir
  • Paket Layanan
    • Individu Dewasa
    • Individu Anak
    • Pendidikan dan Sekolah
    • Tes Kognitif AJT
    • Pasangan, Rumah Tangga, dan Keluarga
    • Korporasi
  • Alur Layanan
  • Galeri
  • Beranda
  • Artikel
Arsip:

Artikel

Ketika AI Menjadi Tempat Curhat: Potret Fenomena Kesehatan Mental di Era Digital

Artikel Thursday, 12 March 2026

Pernahkah Teman UKP menggunakan artificial intelligence (AI) untuk curhat? Pada era digitalisasi saat ini, banyak individu yang cenderung lebih memilih AI sebagai tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah dibandingkan curhat kepada teman, keluarga, maupun profesional kesehatan mental. Kira-kira bagaimana fenomena ini dapat terjadi dalam sudut pandang psikologi? Apakah curhat ke AI lebih baik dibandingkan ke profesional? Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

Mengapa individu dapat merasa nyaman curhat bersama AI?

Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan fundamental untuk mengekspresikan emosi dan pikirannya dengan aman dan nyaman. Dalam perspektif hierarchy of needs dari Abraham Maslow, hal ini merupakan upaya memenuhi kebutuhan akan love and belongingness. AI mengambil peran dengan menawarkan bentuk chatbot yang responsif dan mampu memandu individu untuk melewati ketidaknyamanan psikis yang sedang dirasakan (Kretzschmar et al., 2019). Hal ini dapat menimbulkan perasaan nyaman dan aman bagi individu karena interaksi yang terjalin bersama AI terasa seperti memberikan perhatian yang lebih personal dan tidak menghakimi.  baca selengkapnya

Bismillah Avoidant? Memahami Avoidant Attachment dalam Psikologi Sebelum Ikut Trend

Artikel Thursday, 12 March 2026

Teman UKP pernah menemui konten media sosial dengan hook bertuliskan “Bismillah Avoidant”? Ini merupakan trend yang belakangan sempat ramai di salah satu platform media sosial, TikTok. Menggunakan tagar #avoidant atau #avoidantattachment, para kreator konten ini menunjukkan gaya komunikasi oleh partner hubungan romantisnya yang dingin, tidak menunjukkan perasaan, atau kurang empati.

Sebenarnya seperti apakah yang dimaksud dengan avoidant dalam bentuk kelekatan hubungan romantis? Benarkah avoidant terasosiasi dengan cara chat yang pendek-pendek dan terkesan cuek? Yuk, pahami bersama istilah avoidant attachment secara psikologis! baca selengkapnya

The Psychology of Love: Mencintai Tanpa Harus Kehilangan Jati Diri

Artikel Monday, 4 August 2025

Menurut Erikson, tugas perkembangan individu pada masa dewasa awal adalah membangun intimacy, yakni kemampuan individu untuk membentuk hubungan yang dekat, terbuka, dan penuh komitmen dengan orang lain (Erikson dalam Mitchell dkk., 2021). Salah satu bentuk intimacy yang umum ditunjukkan oleh individu pada masa ini adalah menjalin hubungan percintaan. Pengalaman menjalin hubungan percintaan pada masa dewasa muda dapat menjadi fondasi yang menentukan kesuksesan individu dalam membangun hubungan interpersonal di masa depan (Fincham & Cui dalam Xia dkk., 2018). Individu pada masa dewasa muda yang mampu membangun dan mempertahankan hubungan percintaan yang positif cenderung lebih puas dengan hidup mereka secara keseluruhan (Adamcyzk & Segrin dalam Xia dkk., 2018). Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memastikan bahwa hubungan percintaan yang dijalani bersifat sehat. baca selengkapnya

Fenomena Doomscrolling: Benarkah Membaca Berita Negatif Terus-Menerus Dapat Membuat Kita Lelah Secara Mental?

Artikel Wednesday, 23 July 2025

Pernahkah Teman UKP merasa tidak dapat berhenti membaca berita negatif meskipun lama-kelamaan semakin merasa lelah dan kesal?

Ternyata, peristiwa tadi ada istilahnya loh, yaitu Doomscrolling. Penasaran? Yuk, kita simak lebih lanjut penjelasannya!

Doomscrolling merupakan sebuah istilah baru yang menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus menerus mengonsumsi berita negatif; bahkan ketika hal tersebut menjengkelkan. Sharma et al. (2022) mendefinisikan doomscrolling sebagai perhatian berlebih pada peristiwa-peristiwa negatif yang terkini (khususnya melalui media sosial) sehingga menyebabkan stres, ketidaknyamanan, dan kecemasan. baca selengkapnya

Outgrowing Friendships: Saat Pertemanan Tidak Lagi Sama

Artikel Wednesday, 23 July 2025

“Kok rasanya, aku dan dia sekarang udah beda banget, ya?”

Teman UKP, pernah nggak sih kamu merasa makin jauh dari teman dekatmu dulu? Padahal dulu kalian ke mana-mana selalu bersama, tapi sekarang rasanya semakin sulit untuk terhubung. Kalau kamu pernah atau sedang merasakannya, kamu tidak sendiri. Perubahan semacam ini adalah bagian alami dari pertumbuhan kita, terutama pada fase dewasa awal, yaitu usia 18 hingga 25 tahun, di mana banyak dinamika kehidupan mulai bergeser (De Vries et al., 2021; Wrzus & Neyer, 2016). baca selengkapnya

Self-Affirmation: Ketika Diri Juga Butuh Diyakinkan

Artikel Tuesday, 22 July 2025

“…You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik cantik dari hatimu,-”

Siapa yang tidak kenal lagu dari salah satu girl-group asal Indonesia ini—Cherrybelle? Potongan lirik tersebut berasal dari salah lagu mereka yang berjudul “Beautiful” dan dirilis pada tahun 2011. Secara tidak langsung, lagu tersebut ingin menyampaikan terkait pemaknaan lebih mendalam pada kecantikan, di mana kecantikan tidak selalu berasal dari fisik, melainkan juga dari hati, misalnya melalui kepribadian.  baca selengkapnya

JOMO: Pilihan Sadar untuk Kehidupan yang Lebih Tenang dan Bermakna

Artikel Tuesday, 22 July 2025

Apa itu JOMO?
Joy of Missing Out (JOMO) merupakan sensasi positif yang muncul ketika seseorang merasa lega dan bahagia karena tidak terhubung dengan orang lain (Barry et al., 2023). JoMO terjadi ketika seseorang mengalihkan fokusnya pada “di sini dan sekarang” daripada terus-menerus memikirkan “apa yang mungkin terjadi” atau terobsesi dengan peluang yang terlewatkan (Rees, 2017; Cording, 2018). Berbeda dengan FOMO yang menimbulkan rasa cemas, JOMO mengutamakan keputusan sadar untuk menghindari rasa cemas tersebut dan menikmati ketenangan dengan mengistirahatkan diri dari beragam informasi yang ada di sekitar yang dapat membanjiri pikiran dan membuat merasa lelah (Barry et al., 2023).
Pada dasarnya, JOMO adalah tentang menjadi hadir dan puas dengan kehidupan saat ini (Fuller, 2018). Oleh karena itu, JOMO memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan dengan santai. JOMO juga mendorong fokus yang lebih besar pada hubungan antarmanusia sehingga kita dapat merasakan dan memaknai berbagai emosi yang hadir. Selain itu, gaya hidup JOMO dapat meningkatkan produktivitas, fokus, serta kesejahteraan emosional dan fisik. Manfaat secara fisik dan psikologis yang diperoleh ketika menerapkan gaya hidup JOMO sangat erat kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs nomor 3 yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan. Hal ini karena individu yang sehat dan sejahtera baik secara fisik maupun mental akan dapat terus berkembang dan berkontribusi sebagai masyarakat yang menjadi komponen penting bagi pembangunan berkelanjutan. baca selengkapnya

Menangkal Informasi Tak Terbatas dan Melampauinya

Artikel Wednesday, 26 February 2025

Dewasa ini, kemampuan yang kita miliki untuk mengumpulkan banyak informasi terkadang melaju erat dengan ketidakmampuan kita mengolah tumpukan informasi tersebut menjadi bahan yang bernilai guna. Ketidaksinkronan tersebut direpresentasikan oleh istilah information overload yang pertama kali diperkenalkan oleh Gross (1964) sebagai kondisi ketika jumlah informasi yang diterima sebuah sistem (biologis/nonbiologis) melebihi kapasitasnya untuk memproses informasi tersebut.

Fenomena information overload sendiri sulit dilepaskan dari pesatnya perkembangan teknologi yang senantiasa memperluas produksi serta aksesibilitas informasi. Bawden & Robinson (2020) melaporkan pencarian istilah information overload melalui Google menghasilkan jumlah lebih dari tiga juta item. Selain itu, pencarian melalui sebuah database literatur akademik—Web of Knowledge—menghasilkan sekitar 3.000 artikel bertopik serupa.  baca selengkapnya

No-Buy Challenge: Resolusi Awal Tahun yang Patut Dicoba!

Artikel Wednesday, 12 February 2025

Belanja impulsif adalah kebiasaan yang sering kali sulit dikendalikan, terutama di era digital dengan kemudahan akses ke e-commerce dan strategi pemasaran yang mendorong pembelian spontan. Untuk mengatasi kebiasaan ini, tren No-Buy Challenge yang populer di TikTok awal tahun 2025 hadir sebagai tantangan menarik yang mengajak pengguna media sosial berhenti membeli barang non-esensial dalam jangka waktu tertentu. Barang non-esensial dalam konteks ini diartikan sebagai barang yang tidak benar-benar dibutuhkan dan tidak memberikan manfaat yang signifikan. Selain mengurangi pembelian barang yang non-esensial, No-Buy Challenge banyak diikuti oleh pengguna media sosial karena membantu individu lebih sadar dalam mengelola keuangan dengan menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan kepentingan. baca selengkapnya

Pentingkah Layanan Psikologi?

Artikel Wednesday, 14 June 2017

Berdasar data Riskesdas tahun 2013, sebanyak 14 juta orang atau sekitar 6% penduduk Indonesia mengalami gejala-gejala depresi dan kecemasan. Sedangkan, jumlah penderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400.000 orang (Kemenkes, 2013). Gangguan mental dapat mengenai semua golongan dan ditemukan di semua daerah di seluruh dunia (WHO, 2004). Sudahkah kita mengenal diri dan memahami apa yang terjadi pada diri kita? Kapankah kita membutuhkan bantuan profesional psikologi?

Individu yang sehat secara mental dapat mengetahui dan memaksimalkan potensi dirinya. Selain itu, individu juga dapat beradaptasi dan mengatasi berbagai macam situasi yang dihadapi, mampu bekerja produktif, bermanfaat bagi lingkungan, serta mampu melihat permasalahan secara rasional. Individu yang sehat secara mental memiliki relasi dengan keluarga, teman, dan lingkungan kerja atau sekolah yang relatif baik. Individu tersebut cenderung melihat permasalahan secara positif. baca selengkapnya

12

Berita Terakhir

  • UKP dalam Booth Fakultas Psikologi dan Webinar Kesehatan Mental
  • Ketika AI Menjadi Tempat Curhat: Potret Fenomena Kesehatan Mental di Era Digital
  • Bismillah Avoidant? Memahami Avoidant Attachment dalam Psikologi Sebelum Ikut Trend
  • Pelatihan Mikro Konseling: Kreasi Asa Aguna (KAA) Psikologi UGM bersama UKP UGM
  • Booth UKP UGM dalam Kegiatan AMSAC 2025 di GIK UGM
Universitas Gadjah Mada

Unit Konsultasi Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Gedung D lantai 2
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
 +62(274)550435 ext 131 | +62 857 5916 1581
 +62(274)550435 ext 158
ukp.psikologi[at]ugm.ac.id | ukpugm[at]gmail.com
 instagram.com/ukpugm

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY