• Tentang Psikologi UGM
  • CICP
  • CPMH
  • UPAP
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Unit Konsultasi Psikologi
    • Profil Pengelola
    • Lokasi
    • Karir
  • Paket Layanan
    • Individu Dewasa
    • Individu Anak
    • Pendidikan dan Sekolah
    • Tes Kognitif AJT
    • Pasangan, Rumah Tangga, dan Keluarga
    • Korporasi
  • Alur Layanan
  • Galeri
  • Beranda
  • Artikel
Arsip:

Artikel

Quarter-Life Crisis: Pencarian Makna di Tengah Ketidakpastian Dua Puluhan

Artikel Friday, 12 June 2026

Pernahkah Teman UKP merasa bahwa masa kini tidak berjalan sesuai harapan atau merasa terjebak dalam ketidakpastian masa depan? Rasanya seperti hidup yang kita impikan tidak dapat terwujud karena tanggung jawab sebagai ‘orang dewasa’ menuntut untuk segera diselesaikan. Jika pernah, mungkin Teman UKP sedang mengalami quarter-life crisis.

Apa itu quarter-life crisis?

Quarter-life crisis merupakan istilah populer yang menggambarkan kondisi ketika individu usia 20-an mengalami krisis akibat berbagai tekanan serta ekspektasi budaya terhadap peran orang dewasa (Hassler, 2011). Krisis ini dapat muncul dalam bentuk emosional seperti perasaan sedih, cemas, dan putus asa  (Valentino & Hendrawan, 2025). Perasaan tersebut seringkali dipicu oleh kebingungan dalam menghadapi masa depan dan penyesuaian terhadap peran baru, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial.  baca selengkapnya

Di Balik Kebiasaan Mengatakan “Aku Baik-Baik Saja”

Artikel Friday, 22 May 2026

Apakah TemanUKP pernah dibilang “kuat” oleh banyak orang, tetapi diam-diam merasa lelah? Semakin berusaha menjadi kuat seperti yang orang katakan, justru terasa semakin melelahkan. Bahkan di hari yang buruk, di tengah ramainya isi kepala yang berkecamuk, dan berbagai perasaan yang tidak menentu, rasanya seperti ada tuntutan bahwa kita harus tetap terlihat baik-baik saja. 

Kenapa ya, kita seolah-olah “harus kuat” terus?

Berbagai fase kehidupan seringkali diwarnai oleh berbagai tuntutan, misalnya dari pekerjaan dan karier, perjalanan akademik, relasi sosial, hingga perencanaan masa depan. Dalam proses tersebut, tidak sedikit individu yang secara perlahan terbiasa untuk “tetap kuat” dan menyembunyikan perasaan yang dianggap dapat mengganggu produktivitas. Dalam perspektif psikologi humanistik, kondisi ini dapat dikaitkan dengan incongruence, yaitu ketidaksesuaian antara pengalaman internal dengan ekspresi diri yang ditampilkan kepada orang lain (Rogers dalam Santrock, 2018). baca selengkapnya

Toxic Positivity: Ketika ‘Berpikir Positif’ Justru Melukai Diri Sendiri

Artikel Friday, 24 April 2026

Apakah teman UKP pernah mendapat komentar seperti, “Nggak papa, itu biasa terjadi. Coba kamu lebih bersyukur dan cari hikmah dari kejadian ini”. Atau kamu mencoba berpikir positif terhadap suatu masalah, tetapi justru berujung cemas dan semakin terpuruk? Jika iya, mungkin yang terjadi adalah salah satu bentuk toxic positivity.

Apa itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah kecenderungan memaksakan diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif hingga menekan pengakuan terhadap stres dan emosi negatif. Individu yang terjebak dalam toxic positivity meyakini bahwa seberat apapun kesulitan yang dialami, mereka harus tetap berpikir positif, alih-alih mengakui, memproses, dan menghadapinya secara sehat. Dengan kata lain, ciri utama toxic positivity adalah adanya penolakan atau ketidakmauan untuk mengakui dan menerima emosi negatif. baca selengkapnya

Interaksi Antargenerasi di Tengah Kesibukan Mahasiswa: Relasi Cucu dan Lansia

Artikel Friday, 10 April 2026

Teman UKP pernah kepikiran tidak, kapan terakhir kali benar-benar mengobrol dengan kakek atau nenek? Bukan sekadar datang, salaman, lalu sibuk dengan ponsel masing-masing, tetapi duduk dan berbincang dengan perhatian penuh.

Sebagai mahasiswa, fase hidup sering kali dipenuhi tuntutan akademik, aktivitas organisasi, serta perencanaan masa depan. Di tengah kesibukan tersebut, peran sebagai cucu kerap berjalan otomatis. Hadir saat momen tertentu, menyapa seperlunya, lalu kembali tenggelam dalam rutinitas. Relasi dengan lansia pun sering dianggap cukup diwakili oleh kehadiran fisik sesekali. baca selengkapnya

Ketika AI Menjadi Tempat Curhat: Potret Fenomena Kesehatan Mental di Era Digital

Artikel Thursday, 12 March 2026

Pernahkah Teman UKP menggunakan artificial intelligence (AI) untuk curhat? Pada era digitalisasi saat ini, banyak individu yang cenderung lebih memilih AI sebagai tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah dibandingkan curhat kepada teman, keluarga, maupun profesional kesehatan mental. Kira-kira bagaimana fenomena ini dapat terjadi dalam sudut pandang psikologi? Apakah curhat ke AI lebih baik dibandingkan ke profesional? Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

Mengapa individu dapat merasa nyaman curhat bersama AI?

Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan fundamental untuk mengekspresikan emosi dan pikirannya dengan aman dan nyaman. Dalam perspektif hierarchy of needs dari Abraham Maslow, hal ini merupakan upaya memenuhi kebutuhan akan love and belongingness. AI mengambil peran dengan menawarkan bentuk chatbot yang responsif dan mampu memandu individu untuk melewati ketidaknyamanan psikis yang sedang dirasakan (Kretzschmar et al., 2019). Hal ini dapat menimbulkan perasaan nyaman dan aman bagi individu karena interaksi yang terjalin bersama AI terasa seperti memberikan perhatian yang lebih personal dan tidak menghakimi.  baca selengkapnya

Bismillah Avoidant? Memahami Avoidant Attachment dalam Psikologi Sebelum Ikut Trend

Artikel Thursday, 12 March 2026

Teman UKP pernah menemui konten media sosial dengan hook bertuliskan “Bismillah Avoidant”? Ini merupakan trend yang belakangan sempat ramai di salah satu platform media sosial, TikTok. Menggunakan tagar #avoidant atau #avoidantattachment, para kreator konten ini menunjukkan gaya komunikasi oleh partner hubungan romantisnya yang dingin, tidak menunjukkan perasaan, atau kurang empati.

Sebenarnya seperti apakah yang dimaksud dengan avoidant dalam bentuk kelekatan hubungan romantis? Benarkah avoidant terasosiasi dengan cara chat yang pendek-pendek dan terkesan cuek? Yuk, pahami bersama istilah avoidant attachment secara psikologis! baca selengkapnya

The Psychology of Love: Mencintai Tanpa Harus Kehilangan Jati Diri

Artikel Monday, 4 August 2025

Menurut Erikson, tugas perkembangan individu pada masa dewasa awal adalah membangun intimacy, yakni kemampuan individu untuk membentuk hubungan yang dekat, terbuka, dan penuh komitmen dengan orang lain (Erikson dalam Mitchell dkk., 2021). Salah satu bentuk intimacy yang umum ditunjukkan oleh individu pada masa ini adalah menjalin hubungan percintaan. Pengalaman menjalin hubungan percintaan pada masa dewasa muda dapat menjadi fondasi yang menentukan kesuksesan individu dalam membangun hubungan interpersonal di masa depan (Fincham & Cui dalam Xia dkk., 2018). Individu pada masa dewasa muda yang mampu membangun dan mempertahankan hubungan percintaan yang positif cenderung lebih puas dengan hidup mereka secara keseluruhan (Adamcyzk & Segrin dalam Xia dkk., 2018). Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memastikan bahwa hubungan percintaan yang dijalani bersifat sehat. baca selengkapnya

Fenomena Doomscrolling: Benarkah Membaca Berita Negatif Terus-Menerus Dapat Membuat Kita Lelah Secara Mental?

Artikel Wednesday, 23 July 2025

Pernahkah Teman UKP merasa tidak dapat berhenti membaca berita negatif meskipun lama-kelamaan semakin merasa lelah dan kesal?

Ternyata, peristiwa tadi ada istilahnya loh, yaitu Doomscrolling. Penasaran? Yuk, kita simak lebih lanjut penjelasannya!

Doomscrolling merupakan sebuah istilah baru yang menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus menerus mengonsumsi berita negatif; bahkan ketika hal tersebut menjengkelkan. Sharma et al. (2022) mendefinisikan doomscrolling sebagai perhatian berlebih pada peristiwa-peristiwa negatif yang terkini (khususnya melalui media sosial) sehingga menyebabkan stres, ketidaknyamanan, dan kecemasan. baca selengkapnya

Outgrowing Friendships: Saat Pertemanan Tidak Lagi Sama

Artikel Wednesday, 23 July 2025

“Kok rasanya, aku dan dia sekarang udah beda banget, ya?”

Teman UKP, pernah nggak sih kamu merasa makin jauh dari teman dekatmu dulu? Padahal dulu kalian ke mana-mana selalu bersama, tapi sekarang rasanya semakin sulit untuk terhubung. Kalau kamu pernah atau sedang merasakannya, kamu tidak sendiri. Perubahan semacam ini adalah bagian alami dari pertumbuhan kita, terutama pada fase dewasa awal, yaitu usia 18 hingga 25 tahun, di mana banyak dinamika kehidupan mulai bergeser (De Vries et al., 2021; Wrzus & Neyer, 2016). baca selengkapnya

Self-Affirmation: Ketika Diri Juga Butuh Diyakinkan

Artikel Tuesday, 22 July 2025

“…You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik cantik dari hatimu,-”

Siapa yang tidak kenal lagu dari salah satu girl-group asal Indonesia ini—Cherrybelle? Potongan lirik tersebut berasal dari salah lagu mereka yang berjudul “Beautiful” dan dirilis pada tahun 2011. Secara tidak langsung, lagu tersebut ingin menyampaikan terkait pemaknaan lebih mendalam pada kecantikan, di mana kecantikan tidak selalu berasal dari fisik, melainkan juga dari hati, misalnya melalui kepribadian.  baca selengkapnya

12

Berita Terakhir

  • Kolaborasi UKP dalam Ruang Asesmen dan Penguatan Tim
  • Quarter-Life Crisis: Pencarian Makna di Tengah Ketidakpastian Dua Puluhan
  • Di Balik Kebiasaan Mengatakan “Aku Baik-Baik Saja”
  • Kolaborasi dan Pengembangan Layanan: Upaya UKP Mendukung Kesejahteraan di Lingkungan Pendidikan
  • Toxic Positivity: Ketika ‘Berpikir Positif’ Justru Melukai Diri Sendiri
Universitas Gadjah Mada

Unit Konsultasi Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Gedung D lantai 2
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
 +62(274)550435 ext 131 | +62 857 5916 1581
 +62(274)550435 ext 158
ukp.psikologi[at]ugm.ac.id | ukpugm[at]gmail.com
 instagram.com/ukpugm

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY